Jumat, 23 Agustus 2019

Tugas 6 Manajemen kelas di SD

PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS

A. Pengertian pendekatan dalam manajemen kelas.
     
              Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan merupakan terjamahan dari kata “management”. Dalam kamus umum bahasa Indonesia disebutkan bahwa pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.  Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Dalam hal ini tidak terkait pengertian ruangan kelas.Pandangan beliau dalam pengertian pengajaran, kelas bukan wujud ruangan, tetapi sekelompok peserta didik yang sedang belajar, meskipun peristiwa itu terjadi di ditempat lain, dimana siswa sedang berkerumun belajar tentang hal yang sama, dari fasilitator yang sama.


B. Sikap guru dalam manajemen kelas

               Menurut Djamarah (2006 : 185) hendaknya guru harus bersikap :
1. Hangat dan antusias, guru yang hangat dan akrab pada siswa akan menunjukan antusias pada tugasnya.
2. Menggunakan kata – kata, tindakan, cara kerja dan bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan kegairahan siswa untuk belajar
3. Bervariasi dalam penggunaan alat atau media pola interaksi antara guru  dan siswa.
4. Guru luwes untuk mengubah startegi mengajarnya
5. Guru harus menekankan pada hal – hal yang positif dan menghindari
6. Guru harus menekankan pada hal – hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal – hal yang negatif
7. Guru harus disiplin dalam segala hal 


C. Peran guru dalam manajemen kelas

         Salah satu tugas guru sebagai pendidik di sekolah adalah sebagai menajer. Seorang guru harus mampu memimpin kelasnya agar tercipta pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan kondisi kelas merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Padmono (2011 : 23) fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan terciptanya lingkungan belajar (environmental in put) kondusif sehingga murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat menjadi pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat terlihat, adapun peran guru dalam memanajemen kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut :

1. Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya.

2. Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk :
a) Seating chart
Penempatan murid dalam kelas dibuat suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu dapat diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru, sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid tidak terganggu.
b) Melingkar
Model duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.

3. Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
                Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga, buku.

4. Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
             Kelas yang indah akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak betah belajar di dalam kelas. Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah. Guru dapat membimbing siswa untuk mendesain kelas menjadi indah seperti menata buku sesuai dengan ukurannya, menempelkan gambar – gambar di ruangan kelas


D. Macam macam pendekatan dalam manajemen kelas
                Menurut Syaiful Bahri, pendekatan tersebut meliputi pendekatan kekuasaan, pendekatan ancaman, pendekatan kebebasan, pendekatan resep, pendekatan pembelajaran , pendekatan perubahan tingkah laku, pendekatan suasana emosi dan hubungan sosial, pendekatan proses kelompok dan pendekatan elektis atau pluralistik. 

1. Pendekatan Kekuasaan
               Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Peranan guru disini adalah menciptkan dan mempertahankan situasi disiplin kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada peserta didik untuk menaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dalam norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itulah guru mendekatinya.

        Di dalam kegiatan pembelajaran, factor kedisiplinan adalah kekuatan utama untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, karena itu guru perlu menekankan pentingnya peserta didik untuk menaati peraturan yang telah dibuat sebelumnya. Berbagai peraturan itu ibaratnya adalah “penguasa” yang wajib untuk ditaati. Oleh sebab itu, guru harus mampu melakukan pendekatan yang baik kepada peserta didik melalui peraturan ini, dan bukan kemauannya sendiri. Alangkah lebih baik jika sebelum memulai mengajar, guru membuat kesepakatan-kesepakatan dengan peserta didik mengenai keharusan untuk menaati aturan. Namun, tak hanya peserta didik, guru juga harus konsisten mengikuti segala peraturan yang ditetapkan agar tidak timbul kecemburuan diantara para peserta didik.

2. Pendekatan Ancaman
      Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku peserta didik dilakukan dengan cara memberikan ancaman, misalnya, melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa. Ancaman disini sepatutnya tidak dilakukan sesering mungkin dan hanya diterapkan manakala kondisi kelas sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan. Selama guru masih mampu melakukan pendekatan lain di luar ancaman, maka akan lebih baik jika pendekatan dengan ancaman ini ditangguhkan. Namun satu hal yang harus diingat,pendekatan ancaman harus dilakukan dalam taraf kewajaran dan diusahakan untuk tidak melukai perasaan peserta didik. Guru mungkin perlu memberi ancaman seperti penangguhan nilai, pemberian tugas tambahan, serta memberikan tugas-tugas lain yang sifatnya mendidik bagi mereka. Ancaman dalam bentuk intimidasi yang berlebihan, seperti mengejek, membanding-bandingkan, memukul dan memaksa, sebaiknya difikirkan ulang sebelum diterapkan. Sebab ancaman seperti itu sangat mungkin dapat melukai perasaan peserta didik serta menyebabkan mereka semakin bertindak represif di dalam kelas. Sindiran halus juga dapat dilakukan oleh guru terhadap peserta
didik yang kurang menaati aturan.

3. Pendekatan Kebebasan
           Pengelolaan diartikan sebagai suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan peserta didik, selama hal itu tidak menyimpang dari peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Terkadang, peserta didik tidak nyaman apabila ada seorang guru yang terlalu over-protectif sehingga peserta didik tidak leluasa melakukan eksperimennya.Jika memberikan tugas kepada peserta didik untuk menuliskan beberapa pengalaman, maka berilah mereka kebebasan untukmenceritakan apa saja yang mereka tuliskan. Jangan membuat ketentuan-ketentuan yang terlalu ketat yang karenanya dapat mengekang kebebasan peserta didik untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya.

4. Pendekatan Resep
        pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar ini digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.

5. Pendekatan Pembelajaran
           Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran akan dapat mencegah munculnya masalah tingkah laku peserta didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku peserta didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik. Oleh karena itu buatlah perencanaan pembelajaran yang matang sebelum masuk kelas dan patuhilah tahapan-tahapan yang sudah dibuat sebelumnya. Hindari kebiasaan mengajar dengan apa adanya, apalagi tanpa perencanaan yang matang. Pembelajaran yang dilakukan secara sistematis tentu dapat membuat peserta didik terhindar dari kejenuhan, karena mereka dapat mengikuti pelajarannya secara bertahap. Sebaliknya peserta didik akan cepat lelah apabila mereka tidak faham alur pembelajaran yang disampaikan gurunya, sehingga materi yang mereka pelajari cenderung membingungkan.

6. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
             Pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku peserta didik dari yang kurang baik menjadi baik. 

7. Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial
        Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dansuasana sosial (socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai kelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan). Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang positif, artinya ada hubungan yang baik dan positif antara guru dengan peserta didik, atau antara peserta didik dengan peserta didik. Di sini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, dan peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat.

8. Pendekatan Proses Kelompok
               Pendekatan kerja kelompok dengan model ini membutuhkan kemampun guru dalam menciptakan momentum yang dapat mendorong kelompok-kelompok di dalam kelas menjadi kelompok yang produktif. Disamping itu, pendekatan ini juga mengharuskan guru untuk mampu menjaga kondisi hubungan antar kelompok agar dapat selalu berjalan
dengan baik.

9. Pendekatan Elektis atau Pluralistik
        Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan inisiatif wali/ guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan. Pendekatan elektis disebut juga pendekatanp luralistic, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan kegiatan pembelajaran berjalan efektif dan efisien.

10. Pendekatan Teknologi dan Informasi
     Pendekatan teknologi dan informasi dalam pengelolaan kelas berasumsi bahwa 
pembelajaran tidak cukup hanya dengan kegiatan ceramah dan transfer pengetahuan, bahwa pembelajaran yang modern perlu memanfaatkan penggunaan teknologi dan informasi di dalam kelas. Guru perlu memahami dalam pembelajaran teknologi dan informasi tidak hanya terfokus pada teknologi komputer saja, guru juga berkepentingan untuk memilih dan menentukan teknologi dan informasi apa yang di butuhkan. Pembelajaran berbasis teknologi dan informasi akan mempermudah proses pembelajaran.

        Dari beberapa pendekatan diatas, guru bebas memilih dan menggabungkan berbagai pendekatan sesuai dengan kemampuannya untuk menumbuhkan kegiatan pembelajaran yang efektif. Pendekatan pembelajaran digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.


Daftar pustaka

Djamarah, Syaiful Bahri, 2006, Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Selasa, 13 Agustus 2019

Tugas 5 Manajemen kelas di SD

KOMPONEN KOMPONEN KETERAMPILAN MANAJEMEN KELAS

1. Pengertian Komponen Keterampilan          Manajemen Kelas.

            Untuk dapat melaksanakannya guru juga harus menguasai berbagai komponen keterampilan dalam manajemen kelas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komponen diartikan dengan bagian dari keseluruhan dari unsur. Sementara keterampilan berasal dari kata terampil. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata terampil diartikan sebagai cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu, dan cekatan. Sementara keterampilan diartikan sebagai kecekapan untuk menyelesaikan tugas. 
   
   Jadi, komponen keterampilan manajemen kelas adalah keseluruhan kemampuan yang dimiliki oleh guru dalam menyelesaikan tugasnya sebagai manajeman kelas. Keterampilan pengelolaan kelas berkaitan dengan kompetensi pedagogis. Iklim kelas yang kondusif untuk belajar ikut mempengaruhi kesuksesan guru dalam mengantarkan siswa mencapai tujuan pembelajaran.

      Menurut (Sartika, 2014) kemampuan dan keterampilan mengelola kelas dalam proses belajar mengajar yang baik sebagai berikut:
1.Menciptakan situasi yang memungkinkan anak untuk belajar, sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran.

2.Siswa belajar dalam suasana yang wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar.

     Jadi, dalam proses pembelajaran, seorang guru harus mampu menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan siswa dapat melakukan pembelajaran, menumbuhkan sikap yang ramah, memiliki kesiapan demi berjalannya suatu pembelajaran dan seorang siswa mampu merasakan kenyamanan dalam keadaan ataupun suasana yang sewajarnya, tidak ada tekanan dari guru dan mampu terangsang untuk belajar dengan baik. 


2. Macam - macam Komponen                            Keterampilam Manajemen Kelas.

         Menurut Moh. Uzer Usman, setidaknya ada empat komponen keterampilan manajeman kelas.

1. Keterampilan mengadakan       pendekatan secara pribadi.
        Hubungan yang akrab dan sehat antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik yang lainnya menjadi suatu keharusan di dalam sebuah kelas. Hal ini dapat terwujud jika guru memiliki keterampilan secara pribadi yang dapat diciptakan antara lain dengan:

a.Menunjukkan kehangatan dan kepakaan terhadap kebutuhan peserta didik, baik dalam kelompok kelas maupun perorangan

b.Mendengarkan secara simpatik ide-ide yang dikemukakan oleh peserta didik.

c.Memberikan respon positif terhadap pemikiran peserta didiknya.

d.Membangun hubungan saling mempercayai

e.Menunjukkan kesiapan untuk membantu peserta didik.

f.Menerima perasaan peserta didik dengan penuh pengertian dan terbuka.

g.Berusaha mengendalikan situasi hingga peserta didik merasa aman, penuh pemahaman, dan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.

2. Keterampilan mengorganisasi.
        Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas, guru sebagai seorang manajer berperan sebagai organisator yag mengatur dan memonitori kegiatan belajar-mengajar dari awal dimulainya hingga akhir kegiatan. Keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai oleh guru agar bisa mengorganisasikan kegiatan belajar-mengajar antara lain:

1.Menjelaskan tujuan belajar yang akan dicapai kepada peserta didiknya.

2.Memvariasikan kegiatan yang mencangkup penyediaan ruangan, peralatan, dan cara menjelaskannya.

3.Membentuk komponen yang tepat.

4.Mengoordinasikan kegiatan belajar mengajar kepada peserta didik, wali murid, dan kepala sekolah.

5.Membagi perhatian pada berbagai tugas dan kebutuhan peserta didik.

6.Mengakhiri kegiatan belajar dengan laporan hasil yang akan dicapai oleh peserta didik.

3. Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar.
          Keterampilan ini memungkinkan guru membantu peserta didik untuk maju tanpa mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai jika guru menguasai keterampilan berikut ini.

a.Memberikan penguatan sebagai kegiatan yang mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik.

b.Mengembangkan supervisi proses awal, yaitu sikap tanggap guru terhadap peserta didik baik secara individu maupun kelompok yang dapat memungkinkan guru mengetahui apakah segala sesuatu berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan.

c.Mengadakan supervisi proses lanjut yan memusatkan perhatian pada penekanan dan pemberian bantuan ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung.

d.Mengadakan supervisi pemanduan yang memusatkan perhatian pada penilaian. pencapaian tujuan dari berbagai kegiatan belajar yang dilakukan dalam rangka menyiapkan rangkuman dan pemantapan sehingga peserta didik saling belajar dan memperoleh wawasan yang menyeluruh. Ini dilakukan dengan menilai kemajuan peserta didik dan menyiapkan mereka untuk mengikuti kegiatan akhir belajarnya.

4. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
              Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar, baik secara perorangan maupun klasikal merupakan tugas utama guru. Itulah sebabnya guru harus mampu membuat perencanaan kegiatan belajar-mengajar yang tepat bagi setiap peserta didik dan seluruh peserta didik dalam sebuah kelas serta mampu melaksanakan perencanaan tersebut. Untuk membantu suatu perencanaan yang tepat, guru dituntut untuk mampu mendiaknosis kemampuan akademik peserta didiknya, memahami berbagai tipe belajar peserta didiknya memahami bakat dan minat peserta didiknya, dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil dagnostik tersebut, guru diharapkan mampu menerapkan kondisi dan tuntutan belajar berupa belajar mandiri, paket kegiatan belajar, belajar dengan teman sebaya, semulasi, dan sebagainya yang semuanya memadu peserta didik untuk menghayari pengalaman bekerja sama atau bekerja dengan pengarahan sendiri. 
 Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar yang harus dikuasai oleh guru sebagai manajer kelas antara lain sebagi berikut.

a.Membantu peserta didik menetapkan tujuan belajar dan menstimulasi peserta didik untuk mencapai yujuan belajar tersebut.

b.Merencanakan kegiatan belajar bersama peserta didiknya yang mencangkup kriteria keberhasilan, langkah-langkah kerja, waktu, serta kondisi belajar.

c.Bertindak atau berperan sebagai penasehat bagi peserta didiknya bila diperlukan.

d.Membantu peserta didik menilai pencapaian dan kemajuannya sendiri. Ini berarti, guru memberikan kesempatan kepada peserta didiknya untuk memperbaiki dirinya sendiri yang merupakan kerja sama guru dengan peserta didik dalam situasi pendidikan yang manusiawi.

       Berbeda dengan Moh. Uzer usman, Syaiful Bahri Djamarah mengungkapkan setidaknya ada dua komponen keterampilan manajemen kelas yang harus dikuasai oleh guru, sebagai berikut:

a.Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prevetif). 

        Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut:

1) Sikap tanggap
              Seorang guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapanatas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik. Komponen ini ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir berasama mereka. Guru tahu kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian, tahu yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru dapat menegur anak didik  walaupun guru sedang menulis di papan tulis. Sikap ini dapat dilakukan dengan cara:
Memandang secara seksama
Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa persahabatan.
Gerak  mendekati
Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas anak didik. Gerak mendekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam atau memberi kritikan dan hukuman.
Memberi pernyataan
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar, ataupun yang lainnya. Akan tetapi haruslah dihindari hal-hal yang menunjukan dominasi guru, misalnya dengan komentar atau pernyataan yang mengandung ancaman seperti: “ saya tunggu sampai kalian diam!”. “saya atau kalian yang keluar?” atau “ siapa yang tidak senang dengan pelajaran saya, silakan keluar!”. 
Memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan
Kelas tidak selamanya tenang. Pasti ada gangguan. Hal ini perlu guru sadari dan jangan dibiarkan. Teguran guru merupakan tanda bahwa guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.

2) Membagi perhatian
           Kelas diisi oleh sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan  dari guru. perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata kepada setiap anak yang ada di dalam kelas juga harus mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama agar pengelolaan kelas menjadi efektif. Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara:
a. Visual
Guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Kontak pandang ini bisa dilakukan terhadap kelompok anak didik atau anak didik secara individual.
b. Verba
Guru dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap aktivitas anak didik pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas anak didik yang lain.

3) Pemusataan perhatian kelompok 
           Munculnya kelompok informal di kelas atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan. Maka guru harus bisa mengambil inisiatif dan mempertahankan perhatian anak didik dan memberitahukan (dapat dengan tanda-tanda) bahwa ia bekerja sama dengan kelompok atau subkelompok yang terdiri dari tiga sampai empat orang.
      Untuk itu ada beberapa hal yang dapat guru lakukan, yaitu:
a. Memberi tanda 
       Dalam memulai proses belajar mengajar guru memusatkan pada perhatian kelompok terhadap suatu tugas dengan memberi beberapa tanda, misalnya menciptakan atau membuat situasi tenang sebelum memperkenalkan objek, pertanyaan atau topik dengan memilih anak didik secara random untuk meresponnya.

b. Pertanggungan jawab
            Guru meminta pertanggung jawaban anak didik atas kegiatan dan keterlibatannya dalam suatu kegiatan. Setiap anak didik sebagai anggota kelompok harus bertanggung jawab terhadapkegiatan sendiri, maupun kegiatan kelompoknya. Misalny, dengan meminta kepada anak didik untuk memperagakan, melaporkan hasil dan memberikan tanggapan.

c. Pengarahan dan petunjuk yang jelas
       Guru harus sering kali memberi pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam memberikan pelajaran kepada anak didik, sehingga tidak terjadi kebingungan pada diri anak didik. Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota kelas, kepada kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan yang jelas.

d. Penghentian 
              Tidak semua gangguan tingkah laku dapat dicegah atau berhasil dihindari. Yang diperlukan disini adalah guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu untuk aktiv dalam kegiatan di kelas. Bila anak didik menyela kegiatan anak didik lain dalam kelompoknya, guru secara verbal mengomeli atau menghentikan gangguan anak didik itu.
     Cara lain untuk menghentikan gangguan, adalah guru dan anak didik membuat persetujuan mengenai prosedur dan aturan yang merupakan bagian dari pelaksanaan rutin proses belajar mengajar, sehingga menghentikan gangguan berubah menjadi hanya memperingatkan. Cara mengomeli kurang dibenarkan dalam pendidikan, sebab tidak mendidik.
a. Penguatan
Untuk menanggulangi anak didik yang mengganggu atau tidak melakukan tugas, dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang dipilih sesuai dengan masalahnya. Penggunaan penguatan untuk mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial untuk mengatasi anak didik yang terus mengganggu atau yang tidak melakukan tugas.

b. Kelancaran 
Kelancaran atau kemajuan anak didikdalam belajar sebagai indikator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di kelas. Hal ini perlu guru dukung dan jangan diganggu dengan hal-hal yang bisa membuyarkan konsentrasi anak didik. Ada sejumlah kesalahan yang harus guru hindari, yaitu: campur tangan yang berlebihan (teacher Instruction), kelenyapan (Fade away), penyimpangan (Digression), dan ketidaktepatan berhenti dan memulai kegiatan.

c. Kecepatan 
Kecepatan disini diartikan sebagai tingkat kemajuan yang dicapai anak didik dalam suatu pelajaran. Yang perlu dihindari oleh guru adalah kesalahan menahan penyajian bahan pelajaran yang sedang berjalan, atau kemajuan tugas. Ada dua kesalahan kecepatan yang harus dihindari bila kecepatan yang tepat mau dipertahankan, yaitu: Bertele-tele (overdwelling) dan mengulangi penjelasan yang tidak perlu. 

4)  Memberikan petunjuk-petunjuk yang        jelas 
        Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan diatas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah memaparkan setiap pelaksanaan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.

5) Menegur
       Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran bukan dari hal yang memberikan efek  penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya .

6) Memberi penguatan
       Penguatan adalah upaya yang diarahkan  agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dan dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan atau dapat ditularkan kesiswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersifat nonmaterial juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan .

b. Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal. 
     
          Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan kegiatan remedial untuk mengembalikan kondisi belajara yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang –ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua anak didik untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap masalah anak didik dalam kelas. Namun pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas kelas. Strategi itu adalah:
a.  Memodifikasi tingkah laku
    Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pembelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang penilaian yang kurang baik. Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.

b. Pengelolaan kelompok
       Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagian pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang diterapkan oleh guru. Kelompok biasa muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan , gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus dikelola dengan baik oleh guru.

c. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
           Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karna itu permasalahan akan muncul didalam kelas kaitanya dengan interaksi dan akan diisi oleh dampak pengiring yang besar bila tidak biasa di selesaikan. Guru dapat dapat melakukan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya. Guru harus datang mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesain sehinggaada solusi untuk masalah tersebut.


3. Permasalahan dalam Komponen                  Keterampilan Manajemen Kelas.
        
       Hal ini merupakan hambatan kemajuan pelajaran atau aktivitas kelas. Siswa pada umumnya mencatat sebagai hal yang membosankan dan tidak mau terlibat dalam kegiatan dikelas. Pengulangan Penjelasan Yang Tidak Perlu Terjadi Jika Guru memberi petunjuk yang berulang-ulang secara tidak perlu membagi kelas dalam memberikan petunjuk atau secara terpisah memberi petunjuk ke setiap kelompok yang sebelumnya dapat diberikan secara bersama-sama kepada seluruh kelompok sekali saja di depan kelas.
           Ketrampilan ini berhubungan dengan tanggapan guru terhadap gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan tindakan optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah mencoba memadamkan dengan tanggapan yang relevan tetap saja terjadi guru dapat meminta bantuan, Kepala Sekolah, Konselor/BP dan Waka kesiswaan untuk membantu mengatasinya. Bukanlah kesalahan professional guru apabila tidak dapat menangani permasalahan anak didik dalam kelas berkenaan dengan itu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam kegiatan di kelas.

1. Strategi Yang Dapat Digunakan

a) Modifikasi Tingkah Laku
     Guru hendaklah menganalisis tingkah anak didik yang mengalami masalah dan berusaha memodifikasi tingkahlaku tersebut. Dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.  
1)Dapat kerjasama dengan rekan kerja mengatasi masalah
2)Merinci dengan tepat tingka yang menimbulkan masalah
3)Memilih dengan teliti tingkah yang di      perbaiki dengan mudah untuk diubah, tingkah yang paling menjengkelan yang sering muncul.
4)Tepat memilih pemberian penguatan yang dapat digunakan untuk mempertahankan tingkah yang telah menjadi baik.

b) Pendekatan Pemecahan Masalah Kelompok

1)Memperlancar tugas, mengadakan terjadinya kerjasama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
2)Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok, memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan menangani konflik yang timbul.
3)Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
4)Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkahlaku keliru yang muncul, guru harus mengetahui sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah tersebut. Serta berusaha mencari pemecahanya.


2. Hal-hal yang harus di hindari

a. Campur Tangan Yang Berlebihan
         Seperti guru menyela kegiatan yang asik berlangsung dengan komen atau petunjuk mendadak, maka kegiatan siswa akan terganggu atau terputus. Kesan guru tidak memperhatikan kebutuhan siswa, hanya memuaskan dirinya saja.

b.  Kelenyapan
        Terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu intruksi penjelasan atau petunjuk, komentar. Kemudian menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alas an yang jelas dan membiarkan pikiran anak mengawang-awang.

c. Ketidak tepatan memulai dan                          mengahiri kegiatan
         Terjadi jika guru memulai suatu aktivitas tanpa mengakhiri aktivitas sebelumnya.

d. Penyimpangan
            Terjadi jika dalam kegiatan PBM guru terlalu asik dengan kegiatan tertentu seperti sibuk dengan tempat duduk yang tidak rapi atau cerita sesuatu yang tidak ada hubungan dengan materi terlalu jauh, sehingga kelancaran kegiatan di kelas terganggu.

e. Bertele-tele

1.Mengulang-ulangi hal-hal tertentu
2.Memperpanjang pelajaran atau                       penjelasan
3.Mengubah teguran menjadi ocehan yang     panjang



Dalam pembahasan kelompok 2 adanya 3 pertanyaan yang di ajukan oleh audians yaitu :
1. Resti tri wahyu suci
     Bagaimana cara guru membagi perhatian kepada siswa nya ?

2.Yulastri aroza
      Bagaimana cara menghadapi tingkah laku anak yang beragam, dan bagaimana cara menumbuhkan sikap keberanian pada diri anak?

3. Triputri lestari
           Bagaimana cara mengatasi anak yang sulit dalam menangkap pembelajaran ?

Penambahan jawaban :
1. Siti muthmainna
2. Remuti
3. Annisa rahmadani
4. Aisyah verenia afra
5. Sari rahma dewi
6. Bella alfionita
      Saya sebagai pemakalah dan 2 teman saya yang lain nya, sangat berterimakasih dengan pertanyaan pertanyaan dan antusiasnya audians dalam diskusi pagi hari ini. Dari pembahasan materi kita hari ini saya dapat menyimpulkan bahwa komponen keterampilan manajemen dikelas merupakan Keseluruhan keterampilan yang yang dimiliki seorang guru untuk menyelesaikan tugasnya sebagai Manajemen Kelas. Guru harus mampu menciptakan situasi atau kondisi yang memungkinkan siswa untuk belajar, menumbuhkan sikap yang ramah, memiliki kesiapan demi berjalannya suatu pembelajaran dan seorang siswa mampu merasakan kenyamanan dalam keadaan ataupun suasana yang sewajarnya, tidak ada tekanan dari guru dan mampu teransang untuk belajar dengan baik.

        Manajemen kelas banyak keterampilan yang harus kita kuasai apalagi bagi seorang calon pendidik seperti kita ini. Nanti nya di lapangan atau kita langsung mengajar di kelas banyak karakteristik anak yang akan kita temui tentunya setiap anak tidak akan sama tingkah laku nya. Di sini la peran kita sebagai seorang guru sangat penting, dengan adanya atau kita telah menguasai berbagai keterampilan dalam mengelolah kelas maka semua hal yang berhubungan dengan ruangan kelas maupun langsung ke karakteristik anak kita tidak merasa sulit atau bingung lagi dalam menghadapinya. Setiap peserta didik kita memiliki karakteristik yang berbeda, kita sebagai seorang guru harus pandai dalam menghadapi setiap tingkah laku anak kita. Cara kita menghadapi anak yang sulit dalam pembelajaran, atur tempat duduk anak sedemikian rupa, yang rendah di depan, yang tinggi di belakang, bagaimana karakter pesertadidik dalam memahami pembelajaran, inilah salah satu tujuan dari pengelolaan kelas yang di lakukan oleh guru.

    Semoga pembahasan ini bisa bermaanfaat bagi teman teman


DAFTAR PUSTAKA


Sartika, Dewi. 2014. Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas. Jambi : Universitas Jambi.

Usman, Moh. Uzer. 2013. Menjadi Guru Profesional . Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA

Minggu, 11 Agustus 2019

Tugas 4 Manajemen Kelas di SD

ASPEK, FUNGSI DAN FAKTOR MANAJEMEN KELAS

A.    ASPEK MANAJEMEN KELAS 
Kegiatan manajemen kelas (pengelolaan kelas) meliputi dua kegiatan yang secara garis besar terdiri dari :
1.      Pengaturan orang (siswa) 
Pengaturan orang atau siswa adalah bagaimana mengatur dan menempatkan Siswa dalam kelas sesuai dengan potensi intelektual dan perkembangan emosionalnya.Siswa diberikan kesempatan untuk memperoleh posisi dalam belajar yang sesuai dengan minat dan keinginannya. 

2.      Pengaturan fasilitas    
Pengaturan fasilitas adalah kegiatan yang harus dilakukan siswa, sehingga seluruh siswa dapat terfasilitasi dalam aktivitasnya di dalam kelas. Pengaturan fisik kelas diarahkan untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa sehingga siswa merasa senang, nyaman, aman, dan belajar dengan baik. Kegiatan manajemen kelas sebagai aspek manajemen kelas di SD yaitu :
a)     Mengecek kehadiran
b)     Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa,           memeriksa dan menilai hasil pekerjaan
c)     Pendistribusian alat dan bahan
d)    Mengumpulkan informasi dari siswa
e)     Mencatat data
f)       Pemeliharaan arsip
g)      Menyampaikan materi pelajaran
h)     Memberikan tugas

Ketuju aspek ini harus dilakukan berurutan tidak boleh sembarangan harus sesuai dengan yang telah di rencanakan, sesuai dengan apa saja isi dari kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. Hal ini berbedah dengan bagian administrasi.


B.     FUNGSI MANAJEMEN KELAS  
Fungsi manajemen kelas sebenarnya merupakan penerapan fungsi-fungsi manajemen yang diaplikasikan di dalam kelas oleh guru untuk mendukung tujuan pembelajaran yang hendak dicapinya. Adapun fungsi manajemen kelas yaitu :
1.      Merencanakan atau perencanaaan
Secara sederhana merencanakan adalah suatu proses merumuskan tujuan-tujuan, sumber daya, dan teknik/metode yang terpilih. Merencanakan adalah membuat suatu target-target yang akan dicapai atau diraih di masa depan. Dalam organisasi merencanakan adalah suatu proses memikirkan dan menetapkan secara matang arah, tujuan dan tindakan sekaligus mengkaji berbagai sumber daya dan metode/teknik yang tepat. Merencanakan pada dasarnya membuat keputusan mengenai arah yang akan dituju, tindakan yang akan diambil, sumber daya yang akan diolah dan teknik/metode yang dipilih untuk digunakan. Rencana mengarahkan tujuan organisasi dan menetapkan prosedur terbaik untuk mencapainya. Prosedur itu dapat berupa pengaturan sumber daya dan penetapan teknik/metode.

2.      Pengorganisasikan   
Setelah mendapat kepastian tentang tujuan, sumber daya dan teknik/metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, lebih lanjut  manajer melakukan upaya pengorganisasian agar rencana tersebut dapat  dikerjakan oleh orang ahlinya secara sukses. Mengorganisasikan adalah proses mengatur, mengalokasikan dan mendistribusikan pekerjaan, wewenang dan sumber daya diantara anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. 

3.      Pengarahan    
Memimpin institusi pendidikan lebih menekankan pada upaya mengarahkan dan memotivasi para personil agar dapat melaksanakan tugas pokok Fungsinya dengan baik. Memimpin menurut Stoner adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok atau seluruh organisasi. Seorang pemimpin dalam melaksanakan amanatnya apabila ingin dipercaya dan diikuti harus memiliki sifat kepemimpinan yang senantiasa dapat menjadi pengarah yang didengar ide dan pemikirannya oleh para anggota organaisasi. Hal ini tidak semata mata mereka cerdas membuat keputusan tetapi dibarengi dengan memiliki kepribadian yang dapat dijadikan suri tauladan.

4.      Pengendalian       
Mengendalikan institusi pendidikan adalah membuat institusi berjalan sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan dan sampai kepada tujuan secara efektif dan efisien. Perjalanan menuju tujuan dimonitor, diawasi dan dinilai supaya tidak melenceng atau keluar jalur. Apabila hal ini terjadi harus dilakukan upaya mengembalikan pada arah semula. Dari hasil evaluasi dapat dijadikan informasi yang harus menjamin bahwa aktivitas yang menyimpang tidak terulang kembali. Pengendalian adalah proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebenarnya  sesuai dengan aktivitas yang direncanakan.

C.    FAKTOR MANAJEMEN KELAS 
Berhasilnya manajemen kelas dalam memberikan dukungan terhadap  pencapaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai, banyak dipengaruhi oleh  berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut melakat pada kondisi fisik kelas dan  pendukungnya, juga dipengaruhi oleh faktor non fisik (sosio-emosional) yang melekat pada guru. Untuk mewujudkan pengelolaan kelas yang baik, ada  beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain: 
1.      Kondisi fisik
Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya intensitas proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Lingkungan fisik yang dimaksud meliputi: 
a)     Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
Ruangan tempat belajar harus memungkinkan semua siswa bergerak leluasa,  tidak berdesak-desakan dan saling menganggu antara siswa yang satu dengan  lainnya pada saat melakukan aktivitas belajar. Besarnya ruangan kelas tergantung pada jenis kegiatan dan jumlah siswa yang melakukan kegiatan. Jika ruangan itu tersebut mempergunakan hiasan, pakailah hiasan-hiasan yang mempunyai nilai pendidikan. 
b)     Pengaturan tempat duduk
Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka, dengan demikian guru dapat mengontrol tingkah laku siswa. Pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar  mengajar. 
c)      Ventilasi dan pengaturan cahaya 
Suhu, ventilasi dan penerangan (kendati pun guru sulit mengatur karena sudah ada) adalah aset penting untuk terciptamya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.

2.      Non fisik
Kondisi sosial emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran. Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi : 
a)      Tipe kepemimpinan
Peranan guru dan tipe kepemimpinan guru akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Apakah guru melaksanakan kepemimpinannya secara demokratis, laisez faire atau demokratis. Kesemuanya itu memberikan dampak kepada peserta didik. 
b)      Sikap guru  
Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah lakunya bukan membenci siswanya. Terimalah siswa dengan hangat sehingga ia insyaf akan kesalahannya. Berlakulah adil dalam bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswasadar akan kesalahannya sehingga ada dorongan untuk memperbaikikesalahannya.

c)      Suara guru
Suara guru, walaupun bukan faktor yang besar, turut mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Suara yang melengking tinggi atau senantiasa tinggal atau malah terlalu rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa akan mengakibatkan suasana gaduh, bisa jadi membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara hendaknya relatif rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks cenderung akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran, dan tekanan suara hendaknya bervariasi agar tidak membosankan siswa.

d)    Pembinaan hubungan baik (raport)
Pembinaan hubungan baik (raport) antara guru dan siswa dalam masalah pengelolaan kelas adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistik, relaistik dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukannya serta terbuka terhadap hal-hal yang ada pada dirinya.

DAFTAR PUSTAKA

Mudasir. 2011. Manajemen Kelas. Yogyakarta: Penerbit Zanafa Publishing.

POUD dan Dirjen Dikdasmen yang dikutip Rackman 1998/1999. Hal 15 / Rulam Ahmadi, Profesi Keguruan, 2018. Hal 1717 Jogyakarta ARRUZZ Media

Suyono dan Hariyanto. 2017. Belajar dan Pembelajaran (hal 20).  Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 

Tugas 14 Manajemen Kelas di SD

A. Konsep Dasar Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat     Secara etimologis hubungan masyarakat diterjemahkan dari perkataan bahasa Inggri...